Budaya positif di lingkungan sekolah perlu dilakukan. Hal ini merupakan upaya untuk menanamkan berbudaya positif kepada siswa untuk membangun generasi yang bermartabat. Dalam menciptakan budaya positif, kita perlu memperhatikan lebih mendalam tentang strategi yang menumbuhkan lingkungan yang positif di sekolah untuk mendukung pembelajan yang bermakna.
Budaya positif meliputi 6 hal yaitu
1) perubahan paradigma stimulus respon,
2) konsep disiplin positif,
3) keyakinan kelas,
4) pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia,
5) lima posisi control, dan
6) segitiga restitusi.
Pertama, perubahan paradigma stimulus respon, Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita
Kedua, konsep disiplin positif, Merupakan topik pembahasan tentang disiplin. belajar tentang konsep disiplin positif
yang merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang kita citacitakan di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa kalau saja anak-anak bisa disiplin, pasti mereka akan bisa belajar. Para guru juga berpendapat bahwa mendisiplinkan anak-anak adalah bagian yang paling menantang dari pekerjaan mereka. Ketika mendengar kata “disiplin”, Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan. Ada Tiga macam Motivasi Perilaku Manusia yaitu
1) Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman,
2) Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain,
3) Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
Ketiga, keyakinan kelas. Dalam pembentukan keyakinan kelas,
1) Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.
2) Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
3) Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
4) Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
5) Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.
6) Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan
keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.
7) Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu. pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati adalah keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama warga kelas.
Keempat, pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia.
Semua tindakan yang kita lakukan di dalam kelas harus dapat menciptakan sebuah lingkungan positif, aman dan nyaman. Dari keyakinan kelas yang telah disepakati bersama akhirnya terbentuklah budaya positif,. Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu
1) kebutuhan untuk bertahan hidup (survival),
2) cinta dan kasih sayang (love and belonging) Kebutuhan untuk diterima,
3) kebebasan (freedom) kebutuhan akan pilihan,
4) kesenangan (fun) kebutuhan akan rasa senang, dan
5) Penguasaan (power) kebutuhan pengakuan atas kemampuan. Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Murid kita juga mempunyai gambaran dunia berkualitas mereka. Tentunya sebagai guru kita ingin mereka memasukkan hal-hal yang bermakna dan nilai-nilai kebajikan yang hakiki ke dalam dunia berkualitas mereka. Bila guru dapat membangun interaksi yang memberdayakan dan memerdekakan murid, maka murid akan meletakkan dirinya sendiri sebagai individu yang positif dalam dunia berkualitas karena mereka menghargai nilai-nilai kebajikan
Kelima, lima posisi Kontrol. Melalui serangkaian riset dan bersandar pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah
1. Penghukum (Hukuman fisik atau verbal) “Patuhi tata tertib”
2. Pembuat Orang Merasa Bersalah (Biasanya guru menyampaikan dengan suara yang lembut. “Bagaimana kalau orang tuamu tahu”
3. Teman (Guru memposisikan sebagai teman) “Ingat tidak bantuan bapak selama ini
4. Monitor (Pemantau/mengawasi) “apa yang telah kamu lakukan?”
5. Manajer (mempersilahkan murid untuk mempertagungjawabkan perilakunya dan mencari solusinya
Keenam, segitiga restitusi .
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan, langkah-langkahnya yaitu
1) Menstabilkan Identitas (Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan),
2) Validasi Tindakan yang Salah (Semua perilaku memiliki alasan)
3) Menanyakan Keyakinan (Kita semua memiliki motivasi internal)
Harapannya pembelajaran di SDN Tandang 01 menerapkan budaya positif tersebut. Guru sebagai manajer dan menerapkan segitiga restitusi ketika ada permasalahan. Hal tersebut yang berjangka panjang untuk peserta didik, karena reward dan punishmen hanya untuk jangka pendek.