Selamat siang Bapak Ibu, terima kasih atas kehadiran Bapak Ibu dalam kegiatan Diseminasi Budaya Positif.
Saya Bu Astrid, selaku moderator akan menyampaikan susunan acara pada siang hari ini,
Yang pertama pembukaan
Yang kedua pemaparan penyebaran dan penerapan Budaya Positif
Yang ketiga tanya jawab dan tanggapan
Yang terakhir adalah penutup
Semoga acara ini dapat berjalan dengan lancar dan berguna bagi kita semua serta peserta didik.
Pembukaan :
Budaya Positif di sekolah sangatlah penting untuk mengembangkan peserta didik yang memiliki karakter kuat dan berakhlak sesuai profil pelajar pancasila seperti yang dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan di Indonesia.
Budaya positif dapat dibangun dengan syarat sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar peserta didik mampu berfikir, bertindak, dan mencipta secara merdeka, mandiri, dan bertanggungjawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah penerapan disiplin yang selama ini dijalankan di sekolah. Kesadaran akan penerapan disiplin belum berdasarkan motivasi internal, dimana pembiasaan positif yang diterapkan bukan disiplin positif, namun masih menganut sistem penghargaan dan hukuman.
Model disiplin yang dibangun masih belum berpusat pada siswa selain itu posisi kontrol guru belum sampai pada tahap manajer melainkan sebagai penghukum dan pembuat siswa merasa bersalah. Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan siswa-siswa yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi internal. Siswa yang memiliki disiplin diri berarti mampu bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya. Bagaimana Peran kita sebagai pendidik dapat menumbuhkan disiplin diri pada diri siswa sehingga siswa mampu menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna, mengontrol diri, menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang dihargai.
Bagaimana budaya positif yang sudah ada disekolah berkembang menjadi karakter semua warga sekolah. Bagaimana pendidik menumbuhkembangkan budaya positif dalam mewujudkan karakter profil pelajar pancasila, dan bagaimana menerapkan disiplin restitusi di posisi monitor dan manajer sehingga lingkungan yang positif, aman dan nyaman dapat terwujud.
Adapun yang menjadi tujuan dalam tindakan nyata Budaya Positif ini adalah sebagai berikut:
Slide disiplin positif :
Disiplin banyak orang yang memaknai sebagai sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan dan memiliki kecenderungan ketidaknyamanan serta sering dihubungkan dengan tata tertib yang berkaitan dengan sanksi dan hukuman bagi yang melanggarnya.
Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa untuk mewujudkan murid yang merdeka, murid harus memiliki disiplin yang kuat yang berasal dari dirinya ataupun berasal dari luar diri. Yang dinyatakan dalam bukunya yaitu pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka,6
Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470 yang berbunyi
“dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.
Adapun definisi kata ‘merdeka’ menurut Ki Hajar adalah: mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya; tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri)
Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid yang dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa murid yang memiliki disiplin positif akan memiliki motivasi internal yang tinggi dalam mengusai diri untuk melakukan Tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai pendidik tugasnya adalah membimbing siswa untuk memiliki disiplin diri yang berasal dari dirinya sendiri.
Slide : Kebutuhan dasar manusia
Berdasarkan teori Kontrol menyatakan bahwa, perilaku manusia memiliki tujuan. Dalam ruang lingkup sekolah, maka yang dimaksud perilaku siswa. Terkadang kita tidak menyadari bahwa perilaku yang dilakukan pasti memiliki alasan dan tujuan. Perlu dipahami bahwa, ketika siswa melakukan perilaku yang tidak baik maka saat itu siswa memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Terdapat Lima kebutuhan dasar manusia yaitu 1. Kebutuhan bertahan hidup (survival), 2. Kebutuhan cinta dna kasih sayang (penerimaan), 3. Kebutuhan penguasaan (pengakuan), 4. Kebutuhan kebebasan (Kebutuhan dan pilihan), dan 5. Kebutuhan akan kesenangan
Slide : Motivasi Perilaku Manusia
Menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline,
menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia yaitu
Ø Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Ø Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Ø Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya
Dari ketiga motivasi prilaku manusia dalam mewujudkan disiplin positif yang harus ditanamkan dalam murid-murid adalah motivasi yang nomer 3 karena dengan memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau
hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.
Slide : Posisi Kontrol Restitusi
Gossen telah berkesimpulan bahwa terdapat 5(lima) posisi kontrol yang dapat diterapkan seorang guru. Kelima posisi kontrol tersebut adalah guru sebagai Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Mari kita lihat masing-masing penjelasan dari lima posisi kontrol ini :
1. Penghukum Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Yang biasa dilakukan penghukum biasanya menghardik, menunjuknunjuk, menyakiti, atau menyindir. Dampak pada murid dari seorang penghukum adalah perilaku kontrol negatif seperti murid mengulangi kesalahan berulang kali lalu perilaku menjadi agresif.
2. Pembuat merasa bersalah Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. yang biasa dilakukan pembuat merasa bersalah biasanya berceramah, menunjukkan kekecewaan mendalam.Dampak pada murid dari seorang pembuat merasa bersalah adalah murid akan merasa rendah diri, merasa gagal dan tidak berharga.
3. Teman Guru pada posisi sebagai teman tidak akan menyakiti murid, namun selalu berupaya mengontrol murid melalui pendekatan persuasi. Yang biasa dilakukan posisi sebagai teman adalah membuatkan alasan-alasan untuk muridmuridnya.Dampak pada murid adalah murid akan tergantung tidak mandiri dan tidak bisa memutuskan keputusan sendiri.
4. Pemantau Guru pada posisi ini biasanya selalu mengawasi atau memantau muridnya yang berpatokan pada catatan atau kesepakatan yang sudah disetujui. yang biasa dilakukan posisi sebagai pemantau yaitu memantau, menghitung dan mengukur kedisiplinan murid. Dampak bagi murid dari posisi kontrol pemantau yaitu menitikberatkan pada dampak pada diri sendiri, mendapatkan hadiah atau endapatkan hukuman.
5. Manager Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Guru pada posisi ini biasanya posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Yang dilakukan guru pada posisi manager biasanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait nilai kebajikan yang telah diyakininya, atau pertanyaan yang berkaitan dengan solusi yang ditempuh berkaitan dengan pelanggaran tata tertib.
Dari kelima posisi kontrol diatas, apabila kita menginginkan murid murid kita kedepannya menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, dan tumbuh motivasi instrinsik dalam diri mereka maka kita perlu menerapkan Restitusi yang dapat mengarahkan dan menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di dalam posisi kontrol manajer, murid oleh guru diajak engevaluasi diri bagaimana menjadi diri yang lebih baik, menganalisis kebutuhan dirinya, dan mengenalisis kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan memberikan konsekuensi kepada murid, tetapi guru dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Slide : Keyakinan Kelas
Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Dalam mewujudkan prilaku warga sekolah yang memiliki budaya positi hal pertama perlu diciptakan dan disepakati adalah membuat keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas untuk mendapatkan nilai-nilai kebajikan yang disepakati Bersama.
Mengapa keyakinan kelas, mengapa tidak peraturan kelas saja ? jawabannya adalah suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebi6h tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan yang mengatur mereka harus berlaku begini atau begitu yang membuat ketidaknyamanan dan keterpaksaan.
Berikut adalah cara pembuatan keyakinan kelas
Slide : Segitiga Restitusi
Restitusi memberikan kesempatan kepada murid untuk disiplin positif, memulihkan diri dari kesalahan sehingga memiliki tujuan yang jelas. Penekanannya pada cara mereka menghargai nilai-nilai kebaikan yang diyakini, bukan berperilaku untuk menyenangkan orang lain. Restitusi membantu murid untuk jujur pada dirinya sendiri dan mengevaluasi dampak dari kesalahan yng dilakukan. Restitusi memberikan penawaran bukan paksaan. Sangat penting bagi guru menciptakan kondisi yang membuat murid bersedia menyelesaikan masalahnya dan berbuat lebih baik lagi. Guru dapat menggunakan kalimat seperti “Semua orang pasti pernah berbuat salah”, bukan malah menyudutkan dengan memperjelas kesalahannya.6
Pada bagian dasar seitiga merupakan langkah pertama restitusi yaitu menstabilkan identitas. Bagian ini bertujuan merubah orang yang merasa gagal karena berbuat salah menjadi orang sukses. Kita harus mampu meyakinkan mereka misalnya dengan berkata “Saya pernah melakukan hal yang sama denganmu{”. Ketika seseorang dalam kondisi emosional maka otak tidak mampu berpikir rasional. Kondisi ini sangat tepat kita gunakan untuk menstabilkan identitas. Kita membantu menenangkan mereka dan mencari solusi untuk permasalahannya.
Langkah kedua adalah memvalidasi tindakan yang salah. Pada langkah kedua kita terlebih dahulu memahami kebutuhan dasar yang mendasari tindakan murid kita, Menurut teori kontrol semua tindakan pasti memilki tujuan, entah baik ataupun buruk. Ketika kita menolak murid yang berbuat salah maka merka akan tetap dalam masalah. Yang lebih diperlukan adalah kita memahami alasan mereka berbuat kesalahan sehingga mereka merasa dipahami.
Menanyakan keyakinan kelas adalah langkah selanjutnya. Ketika langkah pertama dan kedua sukses dilakukan maka anak lebih siap dikaitkan dengan nilai-nilai kebajikan yang dia percaya dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Kehidupan masa depan yang mereka inginkan sangat penting ditanyakan. Ketika gambaran masa depannya sudah ditemukan, maka guru dapat membantu mengarahkan mereka tetap fokus pada gambarannya. Segitiga restitusi dapat menumbuhkan motivasi internal murid untuk disiplin positif dan terbiasa mencari solusi dengan permasalahannya.
Terima kasih Bu Fina atas pemaparan dan penyebaran penerapan Budaya Positif di sekolah.
Acara selanjutnya adalah sesi tanya jawab
Kami buka lima pertanyaan, boleh menanggapi ataupun bertanya mengenai Budaya Positif yang sudah dipaparkan Bu Fina.
Pertanyaan 1
Apakah sistem reward bisa membuat anak menjadi disiplin? Efektifkah? Kalau reward seperti itu tidak efektif, bagaimana dengan banyak memuji anak? Bisa berhasilkah?
Jawaban :
Bintang/stiker sebagai hadiah juga alat mengontrol = hukuman, walau menyenangkan untuk anak. Ini tidak efektif untuk #DisiplinPositif dalam jangka panjang. Reward efisien mengubah perilaku dalam jangka pendek, tapi anak tidak melatih motivasi internalnya. Perilakunya dilakukan karena hadiah, bukan tanggung jawab. Memuji anak atau memberi hadiah boleh, asalkan spontan. Tujuannya untuk mengekspresikan emosi orangtua, bukan untuk memanipulasi dan mengontrol. Memberi dukungan dan hadiah untuk anak tidak dijanjikan di awal sebagai iming-iming perilaku, tidak menjadi alat tawar agar anak tidak ketergantungan. Yang penting juga adalah dukungan pada anak dilakukan bukan hanya saat ia berhasil/menang, tapi justru saat gagal menunjukkan usaha keras.
Pertanyaan 2
Kadang sebagai guru di delam kelas kita terpancing emosi pas anak melanggar aturan, bagaimana caranya supaya tetap tenang dan lancar dalam menerapkan Disiplin Positif? Jadi, bagaimana supaya nggak menghukum? Cara apa yang dipakai oleh Disiplin Positif?
Jawaban :
Kalau kita terpancing emosi, berarti kita berespons pada kebutuhan kita, bukan kebutuhan anak. Ini biasanya karena punya perasaan negatif. Emosi, misalnya karena asumsi/label negatif ke anak (sengaja, nakal) atau orangtua lelah & nggak ada waktu. Tenangkan diri dulu sebelum proses #DisiplinPositif. Penting diingat bahwa setiap perilaku pasti ada tujuan & niatnya. Perilaku anak untuk memenuhi kebutuhannya, bukan untuk bikin orangtua emosi. Kalau melihat dengan positif, tidak hanya pada perilakunya, maka akan lebih mudah untuk tenang dan fokus pada apa yang dibutuhkan anak saat menerapkan #DisiplinPositif. #DisiplinPositif tujuannya anak belajar mengendalikan diri sesuai tujuannya dan nilai yang dipercayai bersama di rumah dan sekolah. Langkah awal #DisiplinPositif membahas dan menyepakati apa yang jadi tujuan bersama, nilai apa saja yang dipercaya untuk dijaga, serta peran anak dan orangtua. Kesepakatan bersama dilakukan sejak awal, didasari komunikasi yang baik. Sepakati juga konsekuensi serta apa yang akan dilakukan orangtua dan anak saat dilanggar.
Kalau sudah ada kesepakatan bersama, maka saat anak melanggar (dan pastinya anak belajar akan melakukan kesalahan), bisa jadi dasar diskusi. Apa yang kamu lakukan? Apa kebutuhanmu yang terpenuhi? Apakah kamu mengganggu kebutuhan orang lain dengan perilaku ini? Apakah kamu butuh bantuan?
Kesepakatan bersama perlu dinyatakan dengan positif dan melibatkan anak dalam prosesnya agar dipahami. Pilih hanya aturan yang penting dan bisa dilaksanakan.
Pertanyaan 3
Misal saya ada kasus di kelas saya seperti ini :
Pagi ini Anak-anak sudah berdatangan. Kecuali Randy yang belum kelihatan batang hidungnya. Begitu pelajaran akan dimulai, Andi yang datang dengan kondisi yang berantakan. Sinta, temannya bertanya, mengapa dia berantakan?
Lalu anak Andi itu malah marah-marah, dan menantang temannya itu. Hingga terlibat adu mulut, hampir saja mereka berkelahi. Anak-anak yang takut memanggil saya yang kebetulan berada di ruang guru.
Saya panggil kedua anak itu. Setelah saya tanya, ternyata Andy tidak suka kalau dibilang berantakan dan sering terlambat. Randy tergesa-gesa berangkat ke sekolah, hingga hatinya kalut.
Untuk langkah segitiga restitus untuk kasus di kelas saya seperti apa ya?
Jawaban:
Langkah-langkah Segitiga Restitusi:
1) Menstabilkan identitas
- Menurut Andy, perbuatan yang Randy lakukan tadi pagi itu benar atau salah ?
- Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan
- Tidak ada di dunia ini orang yang sempurna.
2) Validasi tindakan yang salah
- Andy pasti punya alasan mengapa melakukan itu?
- Sekarang ceritakan pada Ibu, apa alasanmu?
3) Menanyakan keyakinan
- Kita sudah membuat keyakinan kelas.
- Keyakinan kelas apa saja yang telah kita sepakati?
- Apakah Andy meyakini keyakinan kelas kita?
- Jika Andy meyakininya, apakah Randy bersedia memperbaikinya?
- Jika Andy memperbaikinya, berarti hal ini menunjukkan seperti apa Randy yang sebenarnya?
- Apa rencana Andy untuk memperbaiki hal ini?
- Bagaimana perasaan Andy setelah melakukan restitusi?
Pertanyaan 4
Bagaimana mewujudkan sebuah Keyakinan Kelas yang efektif?
Jawaban :
Menetapkan aturan dan harapan: Mulailah dengan menetapkan aturan dan harapan yang jelas di kelas. Sampaikan dengan tegas apa yang diharapkan dari para siswa dalam hal perilaku, kedisiplinan, partisipasi, dan kerja keras. Pastikan siswa memahami aturan tersebut agar mereka dapat mengikuti dengan baik.
Menciptakan iklim kelas yang positif: Jadikan kelas sebagai lingkungan yang positif, inklusif, dan mendukung. Kenali keberagaman siswa dan berikan kesempatan bagi setiap siswa untuk berkontribusi dan merasa diterima. Dorong kerjasama dan penghargaan antara siswa untuk menciptakan atmosfer yang baik.
Mendengarkan dan memberikan perhatian: Dengarkan siswa dengan aktif dan berikan perhatian kepada setiap individu. Berikan kesempatan bagi siswa untuk berbagi pendapat, ide, dan pertanyaan mereka. Sisipkan waktu dalam jadwal untuk diskusi kelas dan beri umpan balik yang konstruktif..
Mendorong partisipasi aktif: Aktifkan siswa dalam pembelajaran dengan mendorong partisipasi aktif. Buat suasana kelas yang mendukung diskusi terbuka, pertanyaan, dan pemecahan masalah bersama. Dorong siswa untuk berbagi pendapat mereka dan bertukar ide dengan teman sekelas.
Memperhatikan kebutuhan individu: Setiap siswa memiliki kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda. Upayakan untuk memahami kebutuhan individu setiap siswa dan berikan dukungan yang sesuai. Sesuaikan pengajaran dan materi agar sesuai dengan gaya belajar mereka untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Melibatkan orang tua dan wali murid: Libatkan orang tua dan wali murid dalam proses pembelajaran. Berkomunikasi secara teratur dengan mereka untuk berbagi perkembangan siswa dan mendapatkan wawasan tentang siswa di luar lingkungan kelas. Kolaborasi antara guru dan orang tua/wali murid dapat membantu menciptakan dukungan yang kuat bagi perkembangan siswa.
Ingatlah bahwa mewujudkan keyakinan kelas yang efektif membutuhkan waktu dan upaya yang berkelanjutan. Dengan konsistensi dan dedikasi, Anda dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan memotivasi bagi siswa.
Pertanyaan 5 :
Saya masih bingung dalam tahapan menstabilkan identitas. Coba bisa lebih diperjelas lagi dalam langkah menstabilkan identitas.
Jawaban :
Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. kita menginginkan siswa yang reflektif, maka kita harus menyakinkan murid dengan cara mengatakan kalimat-kalimat seperti:
" berbuat salah itu tidak apa-apa" "tidak ada manusia yang sempurna"
"Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi bapak/ibu ingn mencari solusi dari permasalahan ini.
Dan pertanyaan lainnya. dengan tujuan menstabilkan identitas permasalahan. sebab ketika anak berbuat kesalahan maka ia akan cenderung membangkang sehingga perlu distabilkan dengan kalimat-kalimat positif agar murid tergugah kembali dan mau melakukan refleksi diri atas kesalahannya.
* LINK AKSI NYATA